Andalan

Hampa

Kamis,04-04-1996

Dihari yang indah nan cerah itu,engkau saya lahir kan nak,sebagai seorang ibu tentu ibu sangat bahagia sekali

Ibu membesarkanmu dengan sepenuh jiwa ibu,ibu menyayangimu lebih dari apapun.

Hari demi hari,Minggu berganti bulan,bulan berganti tahun, kamu mulai tumbuh dewasa nak,tapi semakin engkau dewasa nak,sifatmu berubah juga

Kamu sering berkata dengan suara lantang,kamu sering membanting pintu kamar,tak jarang pula kamu nak meminta uang kepada ibu secara paksa,bukan ibu tidak ikhlas namun ibu meminta agar kamu memahami keadaan kita nak

Mungkin ibu salah mendidikmu sedari kecil,sering memanjakan mu,menuruti apa saja keinginan mu,tak jarang pula ibu rela berhutang demi tercapainya keinginanmu.

Itu semua ibu lakukan karna hanya kamu satu satu milikku nak,ibu menyesal terlalu memanjakanmu,tapi sudah terlambat semua nya,ini salah ibu bukan salahmu

Best Friend part 2

Setelah menarik napas dalam dalam,aku dan Budi memasuk kedalam warung,kami sengaja memilih duduk di kursi pojok kiri,sebab disitu terdapat tirai yg menutupi warung,jadi kami aman apabila ada guru yang kebetulan lewat dijalan itu. Tidak lama berselang minuman yang ku pesan sedari awal sudah datang. Tanpa basa basi kami langsung seruput minuman nya. Kami bercerita ngalor ngidul sesekali kami berdua tertawa cekikikan. Tanpa terasa jam sudah menunjukan pukul 13.Wib,biasanya jam segitu jam sekolah sudah usai. Aku membayar minuman dan bergegas pulang.

Tiga bulan berlalu,esok adalah hari ujian semester dua,itu sebuah penentuan final untu naik ke kelas berikutnya.

Aku bangun pagi pagi sekali,tidur ku sangat nyenyak,kulihat ibu sudah sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk kami. Setelah selesai sarapan,aku bergegas berangkat ke sekolah,alat tulis sudah kupersiap tadi malam.

Angin bertiup sepoi-sepoi menambah dingin nya udara pagi ini,meski mentari sudah terik,kulihat orang orang sudah sibuk melakukan aktivitas paginya,sesekali ku sapa mereka yang kebetulan duduk di teras rumah nya sambil ngopi ngopi santai menikmati pagi hari. Ku ayunkan langkah ku agar cepat sampai ke tujuan ku. Sampai disekolah ternyata Doni Robbi dan Budi sudah sampai duluan,ternyata mereka sudah menunggui aku sedari tadi.

  • “Udah lama sampai kalian?” Tanyaku
  • “Baru juga sampai”jawab Doni hampir serempak dengan Robbi
  • “Ke kantin dulu kita ya, aku belum serapan”ajak Budi
  • “Yuk lah”seru dengan semangat,dalam hati berharap ditraktir Budi. Kami mengayunkan langkah menuju kantin, sebab waktu ujian dimulai sekitar 15 menit lagi,jadi masih punya waktu 10 menit buat nyantai.

Best Friend

Cerita ini sebenarnya bersumber dari kisah ayah dan teman teman,saya mencoba membuat kisah nya disini,secara real nya,mungkin tulisan saya berantakan maafkan saya,soalnya baru pemula,dan masih tahap belajar menulis,tolong dimaklumi bila masih berantakan tulisan. Kritik dan saran sangat saya harap kan. Terima kasih

“Gendut” sebenarnya itu nama panggilan saya ketika masih batita(baru tiga tahun) tapi panggilan itu masih akrab hingga sekarang, padahal saya sudah menginjak usia 17 tahun,ntah lah mungkin orang orang masih senang sebut nama itu. Bukan tidak senang dengan nama panggilan itu,hanya saja saya malu dengan sebutan itu,tidak tau malu nya dimana pokoknya malu saja dengan sebutan itu,aku lebih suka dipanggil Rian,sebab itu nama ku yang asli.

  • “Yan” panggil temanku,
  • “Apa Bud?tanya ku
  • “Hari ini kita bolos ya?
  • “Kemarin juga bolos Bud,masa hari ini bolos lagi?tanya ku,
  • “Aku malas Yan pelajaran Fisika”kata Budi dengan muka sedikit ngeselin
  • “Terserah mu aja lah Bud”jawabku
  • “Oke Yan” jawab Budi dengan ekspresi menang.

“Teng,,,teng,,teng,,,”bel berbunyi tanda jam istirahat sudah usai,semua murid murid bergegas berlari ke kelas masing masing,seketika suasana di kantin jadi berubah jadi senyap. Hanya aku dan Budi saja yang duduk santai di kantin,biasanya kami berempat,Robbi dan Doni hari ini tidak masuk sekolah.

Aku dan Budi bergegas lari keluar sekolah,sesekali kami memandang kearah belakang untuk memastikan bahwa tidak ada guru yang melihat kami berlari. Maklum di sekolah ku tidak ada satpam,jadi kami bebas keluar masuk ke sekolah.Sekolah sudah jauh tertinggal,kami perlahan lahan memperlambat laju lari,

  • “kita ketempat bisa ya Bud”ajak ku,tempat biasa kami nongkrong di warung pak Dayat
  • “Iya lah,masa mau langsung ke rumah”sahutnya,kalau langsung ke rumah bisa bisa diomelin ortu.
  • “Sebenarnya aku pengen tobat bolos Bud”
  • “Loh, kenapa emangnya?” Budi bertanya balik dengan ekspresi serius
  • “Aku takut ga naik kelas”
  • “Halah santai aja lah yan”sahut nya ketus
  • “Sebentar lagi ujian naik kelas,aku ga mau tinggal kelas”Ujarku
  • “Iya juga sih,kita meski brandal sekolah harus naik kelas ya kan?”
  • “Iya lah Bud”
  • “Hahaha” kami tertawa girang

Buat situs web Anda dengan WordPress.com
Mulai